06 November, 2011

DEMOKRASI PEMBELAJARAN


DEMOKRASI PEMBELAJARAN

A.    Pengertian Demokrasi
Pengertian tentang demokrasi dapat dilihat dari tinjauan bahasa (etimologis) dan istilah (terminologis). Secara etimologis “demokrasi” terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu “demos” yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan “cratein” atau “crotos” yang berarti kekuasaan atau kedaulatan. Jadi secara bahasa demos-cratein atau demos-cratos (demokrasi) adalah keadaan negara dimana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan berada di tangan rakyat. Kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintah rakyat dan kekuasaan oleh rakyat.[1]
B.     Pengertian Pembelajaran
Jague dan Briggs (1979:3) instruction atau pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.
Menurut Eggan dan Kanchak (1998) menjelaskan bahwa ada enam ciri pembelajaran yang efektif, yaitu:[2]
1.      Siswa menjadi mengkaji yang aktif terhadap lingkungan melalui observasi, membandingkan, menemukan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan serta membentuk konsep dan generalisasi berdasarkan kesamaan-kesamaan yang ditemukan.
2.      Guru menyediakan materi sebagai fokus berpikir dan berinteraksi dalam pelajaran.
3.      Aktivitas-aktivitas siswa sepenuhnya didasarkan pada pengkajian.
4.      Guru secara aktif terlibat dalam pemberian arahan dan tuntunan kepada siswa dalam menganalisis informasi.
5.      Orientasi pembelajaran dan pengembangan keterampilan berfikir, serta
6.      Guru menggunakan teknik mengajar yang bervariasi sesuai dengan tujuan dan gaya mengajar guru.
Pembelajaran adalah usaha sadar guru untuk membantu siswa atau anak didik, agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya.[3]
C.    Demokrasi Pembelajaran
Dalam pembelajaran berbasis demokrasi, sistem pembelajaran ditekankan pada kegiatan yang melibatkan semua siswa dengan menekankan cara berfikir kreatif, kritis lam mengemukakan pendapat, ide maupun gagasan sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki dan beragam kecerdasan siswa yang meliputi kecerdasan verbal, matematik, ruang, kinestetik, musical, kecakapan intrapsikis.[4]
Berbicara mengenai pembelajaran demokratis berarti yang harus terjadi adalah bagaimana pola-pola demokratis dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain pembelajaran demokratis adalah pembelajaran yang direncanakan dengan konsep yang memungkinkan praktik dari proses pembelajaran demokratis itu terlaksana, seperti memberikan kesempatan kepada siswa seluas-luasnya untuk belajar, berfikir, bekerja, dan membiarkan mereka bergerak membangun keilmuannya, sehingga siswa memiliki peluang yang besar untuk belajar memberanikan diri membuka wawasannya.
Dikemukakan oleh John.I.Goodlad dalam buku yang berjudul “Paradigma Pendidikan Demokratis” bahwa terpenuhinya misi pendidikan sangat tergantung pada kemampuan guru untuk menanamkan setting demokrasi pada siswa, dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk belajar (Goodlad, 1996:113), yakni bahwa sekolah, menjadi tempat yang nyaman bagi siswa untuk semaksimal mungkin mereka belajar.[5]
Jadi dari situ kita bisa membuka paradigma berfikir kita bahwasanya seorang siswa belajar adalah untuk menambah khazanah keilmuan serta pengalaman belajar mereka, sehingga seorang guru dituntut benar-benar mampu mengembangkan strategi pembelajaran, agar tercapai tujuan dari proses pembelajaran.
Selain itu, suasana yang demokratis dalam kelas juga akan banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih mewujudkan dan mengambangkan hak atau kemampuannya serta kewajibannya. Suasana yang demokratis dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran melalui hubungan antara guru dengan murid. Dan dalam suasana demokratis, itu juga semua pihak memperoleh penghargaan sesuai dengan potensi dan prestasinya masing-masing, sehingga dapat memupuk rasa percaya diri dan dapat berkreasi sesuai dengan kemampuannya tersebut.
Dalam pembelajaran, siswa betul-betul sebagai subyek belajar, bukan sebagai botol kosong yang pasrah untuk diisi dengan berbagai ilmu oleh guru. Saat sekarang rasanya pembelajaran yang demokratis cukup mendesak untuk diimplementasikan di dalam kelas, setidaknya berdasarkan tiga alasan.
Pertama, kenyataan bahwa guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Dalam era globalisasi informasi sekarang tidak bisa dipungkiri, akses terhadap berbagai sumber informasi menjadi begitu luas, televisi, radio, buku, koran, majalah, dan internet. Saat berada di kelas, siswa telah memiliki seperangkat pengalaman, pengetahuan, dan informasi semua ini sesuai dengan bahan pelajaran, bisa juga bertentangan. Pembelajaran yang demokratis memungkinkan terjadinya proses dialog yang berujung pada pencapaian tujuan instruksional yang ditetapkan. Tanpa demokrasi di kelas, guru akan menjadi penguasa tunggal yang tidak dapat diganggu gugat. Siswa terkekang, dan akhirnya potensi kreativitasnya terbunuh.
  Kedua, kompleksnya kehidupan yang dihadapi siswa setelah lulus. Masa depan menuntut mereka mampu menyesuaikan diri. Prinsip belajar yang relevan adalah belajar bagaimana belajar (learning how to learn). Artinya di kelas target pembelajaran bukan sekedar penguasaan materi, melainkan siswa harus belajar juga bagaimana belajar (secara mandiri) untuk hal-hal ini bisa terjadi apabila dalam kegiatan pembelajaran siswa telah dibiasakan untuk berfikir sendiri, berani berpendapat, dan berani bereksperimen.
Ketiga, dalam konteks pendidikan demokrasi masyarakat. Sebagai bagian dari anggota masyarakat, siswa hendaknya sejak dini telah dibiasakan bersikap demokratis bebas berpendapat tetapi tetap dalam rule of game. Ini bisa dimulai di kelas dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang menekankan adanya demokrasi.[6]
D.    Kendala yang dihadapi (guru dan siswa) dalam pembelajaran.
Pembelajaran yang bersifat demokratis berdasarkan data diatas tampaknya cukup signifikan untuk diterapkan. Namun harus diakui ada beberapa kendala yang harus diatasi.
Dari pihak guru, kendala lebih bersifat psikologis. Bagaimanapun selama ini guru telah tercitrakan sebagai orang yang serba tahu dan serba mampu. Bahkan, ada ungkapan guru itu digugu dan ditiru. Ini menempatkan guru pada posisi superior diatas siswa.
Guru memang harus berwibawa baik secara akademik maupun moral, tetapi bukan berarti harus berlaku diktator dan otoriter. Harus ada perubahan paradigma, guru sekarang tidak harus serba tahu dan serba mampu karena hal itu memang mustahil, yang penting guru harus bisa menjadi fasilitator dan motivator sehingga siswa dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Untuk bisa mengubah paradigma ini, guru harus menyadari bahwa wibawa tidak akan lenyap dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreativitas. Bukankah justru wibawa guru akan terangkat bila ia mampu menampilkan Performa sebagai guru yang egaliter, bisa diajak diskusi, terbuka dan demokratis.
Sementara di pihak siswa, kendalanya adalah belum adanya keberanian untuk berpendapat. Selama ini mereka telah terkondisi untuk pasif, menerima apapun informasi guru tanpa kritik. Kondisi ini harus diubah dengan cara mendorong mereka menampilkan gagasan dan menghargainya. Apapun pendapat siswa, guru harus bisa memberikan apresiasi secara positif. Melalui penghargaan dan apresiasi secara positif terhadap siswa, diharapkan berangsur-angsur siswa terbiasa berfikir aktif dan berani mengemukakan pendapatnya di kelas.

DAFTAR PUSTAKA



Azra Azyumardi, Pendidikan Kewargaan (civic education), Tim ICCE UIN, Jakarta, 2003.

Dede Dr. Rosyada, MA Paradigma Pendidikan Demokratis. Jakarta: Kencana, 2004

(http//Chimestry-Education-net.Blogspot.com/2008/II/Pengertian
Pembelajaran.html)

http//re-searchengines.com/rustanti 30708.html)

http//Pembelajaran Guru. Word Press. Com/2008/05/16

http//www. Kompas. Com/kompas-cetak/0209/dikbud/dida09/htm. Kompas. Senin, 30 September 2002


[1] Azyumardi Azra, Pendidikan Kewargaan (civic education), tim ICCE UIN, Jakarta, 2003, hal. 110
[2] (http//Chimestry-Education-net.Blogspot.com/2008/II/Pengertian Pembelajaran.html)
[3] (http//re-searchengines.com/rustanti 30708.html)
[4] http//Pembelajaran Guru. Word Press. Com/2008/05/16
[5] Dr. Dede Rosyada, MA, Paradigma pendidikan demokratis. Jakarta: Kencana, 2004 hal. 19-20
[6] http//www. Kompas. Com/kompas-cetak/0209/dikbud/dida09/htm. Kompas. Senin, 30 September 2002 


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar